Imogiri Part II

Bendung Tegal

Bendung Tegal

Inilah Bendungan Tegal, bendungan yang dibagun sejak 2002 (kalau tidak salah). Bendungan yang ditujukan untuk irigasi lahan pertanian disekitarnya, bahkan sampai daerah yang berkapur (kaki pegunungan) daerah Gunung Kidul.

Perjalanan dilakukan oleh 3 orang. Saya, adik kandung saya (20th), dan keponakan saya(7th). Bersepeda bersama dari rumah mulai jam 7 pagi. Route yang ditempuh adalah jalan Imogiri Barat dengan menimbang keponakan saya masih kelas 2 SD. Tak disangka perjalanan kami tempuh hanya dalam waktu kurang lebih 1 jam saja. Maklum jalan menurun terus :)

Sampai di rumah Simbah (Kakek dari Ibu) langsung disuguhi sarapan sayur sawi dengan tahu, lauknya telor dadar. Yummy…setelah bersepeda langsung sarapan pagi, karena berangkat belum sarapan. Menunggu beberapa menit, sambil ngobrol akhirnya keponakan minta diajak ke bendungan sekalian memancing. Setelah pinjam sana-sini akhirnya dapat dua bilah pancing beserta kail dan senarnya. Ups..umpan!

Yang namanya di desa cari cacing cukup mudah, setengah berani dan setengah jijik, pencarian cacing dimulai. Dapat! sekitar 15 ekor cacing aku tangkap dan di kumpulkan oleh adikku. Acara memancing dimulai…dapat berapa ikan? Tidak dapat apa-apa, cuma dapat panas matahari :D

Walaupun nihil, tetapi ‘fun’ tetap menempel di kepala kami. Eh, sampai rumah simbah langsung makan pepaya, trus kena angin sepoi-sepoi…mengantuk…tahan! Nggak tidur kok hehehe…

Jam 15.00 mulai siap-siap pulang, route yang melelahkan sepertinya, mungkin itu yang ada di benak keponakanku…

Wah mau pulang dulu…

Tour de’Imogiri (pemanasan)

Imogiri (09/05), untuk pertama kali setelah 4 tahun lebih tidak melibatkan diri dalam dunia sepeda, touring pertamaku dimulai. Noxtradamus adalah nama yang kupilih untuk sepeda baru itu. Hasil utak-atik kata dan searching maka dengan keputusan bulat nama ‘Nostradamus‘ dilekatkan pada sepeda itu. Hasil dari kombinasi yang cukup halus, walaupun sedikit dipaksakan untuk lidah Indonesia.

xtrada dari belakang

xtrada dari belakang

Diawali dari “Ayo mas, sesok Sabtu pit-pitan nang Pakem” oleh rekan Imam dari B2W jogja setelah Nomus (nama panggilan untuk Noxtradamus) berhasil masuk dalam genggamanku. “Ayo, siap!”, jawabku spontan. Indomielezat juga menjawab serupa denganku. Sehari setelahnya dengan media facebook aku kembali menanyakan touring pertama itu, “Mas gimana kalo trip-nya ke Slarong atau Imogiri”. “Manut, ke Imogiri lebih enak kayaknya”, sergahku dengan semangat (kaya nulis cerpen yah). Akhirnya disepakati untuk touring de’Imogiri tanggal 9 Mei 2009.

Bangun seperti biasa jam 4.30 pagi, mandi siap-siap bekal, lalu ritual ‘pesepeda’ setiap hari.

Sierra-nya indomielezat

Sierra-nya indomielezat

Memeriksa, dan ngelapi Nomus, dan Sierra milik Indomielezat. Cek tekanan ban semua sudah dilakukan, tinggal menunggu kedatangan Imam. Ting…ting…ting…suara bell sepeda memasuki halaman rumah, muncul Urbano folding bike yang dikendarai Imam.
Ngobrol sebentar, kemudian langsung goes ke rumah Om Rangga dulu karena Imama ada kepentingan untuk acara funbike keesokan-harinya. Dari Jogokariyan menuju Nyutran.

Urbano putih

Urbano putih

Goes…goes…goes…
Lama-lama cape juga yah, maklum sudah lama tidak bersepeda. Setelah dari rumah Om Rangga perjalanan dilanjutkan menuju simpang empat Terminal Giwangan untuk bertemu dengan goeser lain.
Pukul 06.34 sampai di simpang empat tujuan, setelah menunggu beberapa menit akhirnya datang juga (kaya acara tivi). Om Bayu, Mas Niko dan Mas Danang dengan ‘istri’ mereka masing-masing. Tanpa menunggu lama dan menunggu panas matahari, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan menuju Makam Raja-raja Mataram. Beriringan goes…goes…goes…

Sampai di tempat parkir Makam Imogiri, langsung duduk beberapa saat dan memesan bubur untuk mengisi perut, tidak lupa wedang uwuh. Selesai sarapan, langsung menuju tanjakan pertama. “Santai, jangan pake emosi, nikmati saja, atur nafas sesuai ayunan kayuh sepeda”, wejangan Om Bayu. Naik 3 meter, 8 meter…10 meter lho kok lutut kaya mau copot, kontan aku kayuh cepat, tapi…”Jangan emosi, nikmati saja”, pesan Om Bayu lagi…

Tanjakan Imogiri

Tanjakan Imogiri

Tiga per empat tanjakan hampir kucapai, tiba-tiba “Tak!” lututku berhenti merespon semua sensor motorik seperti tidak bisa bekerja lagi, saking lelahnya. “Yah, gagal deh…”, keluhku. Istirahat sebentar di puncak tanjakan, tepat pada persimpangan menuju Makam Raja Kasunanan Surakarta.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju target selanjutnya, “jembatan gantung”. Owh! Aku tahu jembatan ini, dahulu hanya berupa sesek (jembatan dari bambu) yang setiap banjir pasti hanyut. Tapi sekarang sudah di-sulap menjadi jembatan gantung. Aku menamakan sebagai “jembatan hati”, karena dibutuhkan hati yang lapang untuk menunggu giliran lewat. Sebab jembatan ini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, dan satu-satu saja. Makanya harus sabar dan legowo. Untuk finishing kami mencari trip yang memiliki pemandangan yang cukup enak dipandang.

Jembatan Hati/Kesabaran

Jembatan Hati/Kesabaran

Goes..goes…sampai lagi di jalan Imogiri Timur dekat dengan persimpangan Wonokromo. Saatnya pulang…

“Kesabaran adalah salah satu sikap/sifat yang harus kita pupuk dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari kesabaran akan berbuah kebaikan bagi diri kita maupun bagi orang lain”

Terimakasih kepada semuanya…

Kring…Kring…Goes..Goes…

Aduh, kok kriing…kring…lagi…

Eh, tapi ini berbeda lho. Setelah sekian lama mengumpulkan beberapa puluh lembar uang 50-ribu-an, akhirnya kesampaian buat beli kendaraan sendiri. *dengan bangga* apalagi kendaraan ini adalah kendaraan yang paling bersahabat dengan bumi. Sepeda, ya benar! sepeda.

Buat beli saja harus kerja banting tulang *hiperbolic* sampe nge-laju Jogja-Solo buat nambahin lembaran-lembaran uang. Setelah ada kesempatan, langsung saja menentukan untuk membeli se-ekor sepeda ups…sebuah sepeda. Pilihan pertama jatuh pada Polygon Premier. Dari googling sampai cari di forum, tidak terlewat sms teman yang lebih mengeti tentang sepeda. Sudah senang dan gembira mau beli Polygon Premier, aduh! Kenapa?
“Premier mah nanggung, mending beli Astroz ajah.”
Oke deh, akhirnya survey beralih pada Polygon Astroz. Mencari-pun diperketat *maklum masih melirik ke Premier juga*. Tulit…Tulit….sms diterima!
“Eh, daripada premier atau astroz mending xtrada, udah medium entry level lho…”
Jedeng….jegler…..(petir menyambar) aduh! survey lagi…mau ndak mau ya harus.

xtrada dari belakang

xtrada dari belakang

Hari pertama survei, dapat premier dengan harga murah discount 7% bonus kaos sama kunci lagi. Dibanding toko sebelumnya yang mahal (kenapa?) ini lebih memenuhi budget, masuk dalam list, atas sendiri lagi.

Hari kedua, hari ini final! dapet ndak dapet ya harus beli, ndak boleh molor. Datang lagi ke tempat yang mahal, eh…bener emang mahal, maunya turun 5% aja di halang-halangi sampai pelayan yang jualan “emosi”, aku sih modal sabar, trus pas mau lanjutin survey…
Eh, yang punya toko datang ngasih wejangan tentang semua merek sepeda. Jujur karena udah ‘ill-feel’ masuk kuping kiri keluar kuping kiri juga hehehe…
Udah deh lanjut ke toko lain, ups…info: aku survei bersama uing-uingku dan temen dari B2W. Lanjut ke toko yang murah bener, diskon 7% dapet bonus lagi. Cek punya cek, dan dengan bantuan temen dari B2W. Ternyata Sprocket/Cassette diganti, ban original diganti, Rear Deraileur juga diganti…”pantes brani 7% turunnya”. Jadi ’super-ill-feel’, mending beli di tempat tadi yang mahal tapi original.

xtrada dari samping

xtrada dari samping

Berlanjut ke toko hasil tawaran temen B2W, masuk langsung disapa (aku manggilnya tante). “Mau cari sepeda apa?”. “Cari xtrada tante, yang mana ya?” (belagak ndak tau). Dapet deh xstrada silver-red digantung kaya pakaian di pasar2. Lagi2 kejelian temanku B2W melihat, “eh, kok handle-bar-nya kok steel yah, kan harusnya alloy”. Aku terjerengat *apa tuh* “iya yah…”
Langsung saja tanya tante, “Tante, yang black-red ada?”. Tante jawab, “Ada mas tapi diambil dulu dari gudang, nunggu sebentar yah..”. Akhirnya sambil lihat-lihat dan minum teh dalam kemasan pekerjaan dialihkan pada *mode menunggu*. Lama juga lho…15 Menit. tapi kesabaran pasti berbuah yang terbaik (sok bijak).
Mas-nya yang kerja di situ dari utara bawa kerdus besar ada tulisan Polygon. “Lihat ah…” pikirku. Kerdus dibuka, kemudian dicek jreng..jreg….jedug…jedug…
Asik semuanya original dengan harga murah lagi, coba tebak berapa persen turunnya, 8% lebih lho…
Uang di kantong aku siapkan, kuhitung dan kubayarkan setelah sepeda selesai di rakit. Siiplah…
Langsung aku pakai ke gerai ayam goreng khas Jogja, menunaikan kewajibanku mentraktir uing-uingku dan temen dari B2W.

Udah ah…mau kerja dulu…ceritanya lanjut besok yah…

  • Dikunjungi dari,

  • Status,


    The Ubuntu Counter Project - user number # 27687