UGM BNI Jazz 2009

Kali ini Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, kembali menggelar acara konser UGM-BNI Jazz 2009 yang didukung oleh Bank BNI pada Sabtu, 23 Mei 2009 mulai pukul 19.30 WIB bertempat di Grha Sabha Pramana, UGM. HTM ditetapkan sebesar Rp 200.000, Rp 150.000, Rp 75.000, Rp 40.000 dan Rp 25.000.

Untuk kali ini dimeriahkan oleh Ireng Maulana & Friend, Kiboud Maulana, Didiek SSS, Yance Manusamafeaturing Marcell dan Andien plus Maylaffayza dari Jakarta dan masih ada Balawan & Batuan Ethnic Fusiondari Bali. Butet Kartaredjasa kembali dipercaya menjadi MC ditemani Olga Lydia.

Sebagian dari anda terutama yang tinggal di kota gudeg Yogyakarta, merasakan betapa hausnya publik di kota Jogja yang pada umumnya Mahasiswa akan pertunjukan musik khususnya jazz dengan sejumlah bintang dalam format semi festival. Kenyataan itu terlihat ketika tiket pertunjukan yang dijual tahun lalu ludes seminggu sebelum pertunjukan digelar (aku nggak kebagian…hiks).

UGM BNI Jazz 2009

UGM BNI Jazz 2009

Supaya pengalaman tahun 2008 tidak terulang, aku beli tiket secepatnya, sampe-sampe didaulat jadi calo buat teman-teman yang mau nonton (huh…dasar kalian…). Tiket Box dibuka tanggal 4 Mei (kalo ndak salah…) langsung beli di Fakultas Ekonomi & Bisnis. Kirain rame banget, ternyata cuman aku doang yang ngantri (gubrak!). Beli 7 tiket Festival A yang makan dompet Rp. 40.000/tiket. Weits…cuman dapat kupon, trus katanya kupon ditukarkan tiket pada hari H (23 Mei 2009 di GSP). Ups…Pak Yudha dan istrinya Bu Yudha juga mau nonton, tapi Bu Yud baru Hamil…aku cari yang pake tempat duduk dan nyaman nih. “Gelem tiket VIP ora?”, Momon menanyaiku lucky banget nich… “Aku ambil 2!”

Hari H, berangkat jam 17.30 biar dapat kursi maklum tiket festival :D akhirnya dapat di tribun sayap timur berdua dengan Indomielezat sedangkan temanku Kerti beserta istri-istrinya (ck..ck..ck..cewek semua) cari posisi yang menurut mereka tepat, maklum satu keluarga..

Sesuai perkiraan, untuk acara kayak gini pasti tepat waktu, 19.30 acara mulai dibuka oleh Ireng Maulana & Friends. Ireng Maulana pegang gitar, Yance Manusama pegang Bass, Didiek SSS pengang Saksophone, yang pegang Drum dan Keyboard aku lupa (hehehe….) di tambah Kiboud Maulana. Setelah ber-jamsession Andien menyanyikan 2 lagu bersama Ireng Maulana & Friends (gaun-nya Andien sexy tenan..huahaha…). Marcell melanjutkan setelah Andien turun panggung. Seperti biasa aksi Marcell yang “heboh” membuat penonton enjoy dan ikut aja disuruh nyanyi…

Maylaffayza dengan violin-nya mulai beraksi dibantu musisi lain. Satu yang aku bilang dari Maylaffayza, “tegas!”. Dari awal sampai akhir semua instrumen maupun lagu yang dimainkan tegas. Walaupun lagu “Sempurna” besutan Andra and The Backbone di-convert dengan nuansa alat musik gesek, tetep aja tegas tanpa meninggalkan sisi “lembut” lagu itu. Tahu nggak, ada yang sampai meneteskan airmata mendengarkan “Sempurna”-nya Maylaffayza.

I Wayan Balawan, ekspektasiku untuk musisi ini cukup besar, aku sudah dengarkan beberapa albumnya di rumah. Jadi bisa aku bayangkan warna musik yang ditampilkan. Lagu pertama dari Balawan…
“Wow…!!!”, melebihi apa yang aku perkirakan. Aku nikmati sambil merinding mendengarkan dan melihat performa Balawan. “What a soulfull guitar play!”…Bukan cuma aku, Penontonpun memberikan applause berkali-kali untuk performa Balawan.

Acara berakhir sampai pukul 23.30 WIB. Aku dan Indomielezat keluar dan bertemu dengan Pak Yudha dan Bu Yudha…Janjian mau makan bareng dibatalkan karena waktu sudah larut malan. Tapi tetep aja “Ke angkringan tugu yuk, nge-teh bentar”, ajak Indomielezat. Aku sih ayuk-ayuk ajah….

Sampe rumah jam 00.30 trus tidur nyenyak….zzz….

Imogiri Part II

Bendung Tegal

Bendung Tegal

Inilah Bendungan Tegal, bendungan yang dibagun sejak 2002 (kalau tidak salah). Bendungan yang ditujukan untuk irigasi lahan pertanian disekitarnya, bahkan sampai daerah yang berkapur (kaki pegunungan) daerah Gunung Kidul.

Perjalanan dilakukan oleh 3 orang. Saya, adik kandung saya (20th), dan keponakan saya(7th). Bersepeda bersama dari rumah mulai jam 7 pagi. Route yang ditempuh adalah jalan Imogiri Barat dengan menimbang keponakan saya masih kelas 2 SD. Tak disangka perjalanan kami tempuh hanya dalam waktu kurang lebih 1 jam saja. Maklum jalan menurun terus :)

Sampai di rumah Simbah (Kakek dari Ibu) langsung disuguhi sarapan sayur sawi dengan tahu, lauknya telor dadar. Yummy…setelah bersepeda langsung sarapan pagi, karena berangkat belum sarapan. Menunggu beberapa menit, sambil ngobrol akhirnya keponakan minta diajak ke bendungan sekalian memancing. Setelah pinjam sana-sini akhirnya dapat dua bilah pancing beserta kail dan senarnya. Ups..umpan!

Yang namanya di desa cari cacing cukup mudah, setengah berani dan setengah jijik, pencarian cacing dimulai. Dapat! sekitar 15 ekor cacing aku tangkap dan di kumpulkan oleh adikku. Acara memancing dimulai…dapat berapa ikan? Tidak dapat apa-apa, cuma dapat panas matahari :D

Walaupun nihil, tetapi ‘fun’ tetap menempel di kepala kami. Eh, sampai rumah simbah langsung makan pepaya, trus kena angin sepoi-sepoi…mengantuk…tahan! Nggak tidur kok hehehe…

Jam 15.00 mulai siap-siap pulang, route yang melelahkan sepertinya, mungkin itu yang ada di benak keponakanku…

Wah mau pulang dulu…

Tour de’Imogiri (pemanasan)

Imogiri (09/05), untuk pertama kali setelah 4 tahun lebih tidak melibatkan diri dalam dunia sepeda, touring pertamaku dimulai. Noxtradamus adalah nama yang kupilih untuk sepeda baru itu. Hasil utak-atik kata dan searching maka dengan keputusan bulat nama ‘Nostradamus‘ dilekatkan pada sepeda itu. Hasil dari kombinasi yang cukup halus, walaupun sedikit dipaksakan untuk lidah Indonesia.

xtrada dari belakang

xtrada dari belakang

Diawali dari “Ayo mas, sesok Sabtu pit-pitan nang Pakem” oleh rekan Imam dari B2W jogja setelah Nomus (nama panggilan untuk Noxtradamus) berhasil masuk dalam genggamanku. “Ayo, siap!”, jawabku spontan. Indomielezat juga menjawab serupa denganku. Sehari setelahnya dengan media facebook aku kembali menanyakan touring pertama itu, “Mas gimana kalo trip-nya ke Slarong atau Imogiri”. “Manut, ke Imogiri lebih enak kayaknya”, sergahku dengan semangat (kaya nulis cerpen yah). Akhirnya disepakati untuk touring de’Imogiri tanggal 9 Mei 2009.

Bangun seperti biasa jam 4.30 pagi, mandi siap-siap bekal, lalu ritual ‘pesepeda’ setiap hari.

Sierra-nya indomielezat

Sierra-nya indomielezat

Memeriksa, dan ngelapi Nomus, dan Sierra milik Indomielezat. Cek tekanan ban semua sudah dilakukan, tinggal menunggu kedatangan Imam. Ting…ting…ting…suara bell sepeda memasuki halaman rumah, muncul Urbano folding bike yang dikendarai Imam.
Ngobrol sebentar, kemudian langsung goes ke rumah Om Rangga dulu karena Imama ada kepentingan untuk acara funbike keesokan-harinya. Dari Jogokariyan menuju Nyutran.

Urbano putih

Urbano putih

Goes…goes…goes…
Lama-lama cape juga yah, maklum sudah lama tidak bersepeda. Setelah dari rumah Om Rangga perjalanan dilanjutkan menuju simpang empat Terminal Giwangan untuk bertemu dengan goeser lain.
Pukul 06.34 sampai di simpang empat tujuan, setelah menunggu beberapa menit akhirnya datang juga (kaya acara tivi). Om Bayu, Mas Niko dan Mas Danang dengan ‘istri’ mereka masing-masing. Tanpa menunggu lama dan menunggu panas matahari, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan menuju Makam Raja-raja Mataram. Beriringan goes…goes…goes…

Sampai di tempat parkir Makam Imogiri, langsung duduk beberapa saat dan memesan bubur untuk mengisi perut, tidak lupa wedang uwuh. Selesai sarapan, langsung menuju tanjakan pertama. “Santai, jangan pake emosi, nikmati saja, atur nafas sesuai ayunan kayuh sepeda”, wejangan Om Bayu. Naik 3 meter, 8 meter…10 meter lho kok lutut kaya mau copot, kontan aku kayuh cepat, tapi…”Jangan emosi, nikmati saja”, pesan Om Bayu lagi…

Tanjakan Imogiri

Tanjakan Imogiri

Tiga per empat tanjakan hampir kucapai, tiba-tiba “Tak!” lututku berhenti merespon semua sensor motorik seperti tidak bisa bekerja lagi, saking lelahnya. “Yah, gagal deh…”, keluhku. Istirahat sebentar di puncak tanjakan, tepat pada persimpangan menuju Makam Raja Kasunanan Surakarta.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju target selanjutnya, “jembatan gantung”. Owh! Aku tahu jembatan ini, dahulu hanya berupa sesek (jembatan dari bambu) yang setiap banjir pasti hanyut. Tapi sekarang sudah di-sulap menjadi jembatan gantung. Aku menamakan sebagai “jembatan hati”, karena dibutuhkan hati yang lapang untuk menunggu giliran lewat. Sebab jembatan ini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, dan satu-satu saja. Makanya harus sabar dan legowo. Untuk finishing kami mencari trip yang memiliki pemandangan yang cukup enak dipandang.

Jembatan Hati/Kesabaran

Jembatan Hati/Kesabaran

Goes..goes…sampai lagi di jalan Imogiri Timur dekat dengan persimpangan Wonokromo. Saatnya pulang…

“Kesabaran adalah salah satu sikap/sifat yang harus kita pupuk dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari kesabaran akan berbuah kebaikan bagi diri kita maupun bagi orang lain”

Terimakasih kepada semuanya…

  • Dikunjungi dari,

  • Status,


    The Ubuntu Counter Project - user number # 27687